7 Kesalahan Pada Analisa Mikrobiologi Dan Bagaimana Cara Memperbaikinya

Apa yang bisa menyebabkan kesalahan pada analisa mikrobiologi?

Bagaimana kita bisa meminimalisasi kesalahan pada analisa mikrobiologi?

Berbeda dengan analisa atau pengujian kimia, analisa atau pengujian mikrobiologi melibatkan makhuk hidup (bakteri, kapang dan khamir)  sehingga analisanya memerlukan teknik dan persyaratan khusus.

Pada analisa mikrobiologi dikenal 2 potensi kesalahan yaitu :

a. Positif palsu; hasil analisa mikrobiologi menunjukkan positif padahal sebetulnya tidak.

Bisa disebabkan oleh kontaminasi dari personil, lingkungan atau proses analisa yang tidak aseptis.

b. Negatif palsu; hasil analisa menunjukkan negatif, padahal sebetulnya tidak.

Bisa disebabkan oleh pemilihan dan pembuatan media mikrobiologi yang salah, sehingga bakteri tidak bisa tumbuh secara optimal. Contoh kasus misalnya seperti :

  • Menumbuhkan bakteri anaerob pada lingkungan yang aerob, tidak menggunakan anerobic jar secara optimal.
  • Menumbuhkan bakteri yang hidup di lingkungan suasana asam, pada media mikrobiologi yang suasananya netral atau basa.

Berikut adalah 7 kesalahan yang bisa menyebabkan hasil analisa mikrobiologi tidak akurat, menyebabkan positif palsu atau negatif palsu, serta langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya.

1.Kesalahan Pada Penggunaan Metode

Kesalahan ini bisa terjadi karena :

a. Analis belum mengetahui metoda analisa yang digunakan.

Hal ini bisa terjadi karena :

  • Metode analisa tidak dituliskan dalam Standar Operational Procedure (SOP).
  • Analis tidak mendapatkan sosialisasi SOP sebelum melakukan analisa.
  • Analis melihat metode analisa dari para staff senior.

b. Tidak menggunakan metode analisa secara lengkap

Secara umum, hampir seluruh metode analisa mikrobiologi terdiri atas 3 langkah, yaitu :

  • Proses Pre-Enrichment
  • Proses Selective
  • Uji Konfirmasi

Beberapa laboratorium melakukan analisa tidak sesuai dengan metode yang digunakan. Misalnya pada analisa Vibrio cholera, analis bisa menyatakan hasil tanpa melakukan uji konfirmasi, hanya dari pembacaan koloni pada media mikrobiologi TCBS.

Atau seorang analis bisa menyatakan adanya Escherichia coli pada Mc Conkey Agar tanpa melakukan uji konfirmasi.

Kesalahan ini bisa jelas terlihat dari laboratorium mikrobiologi yang tidak memiliki media dan peralatan untuk uji konfirmasi, misalnya uji gula gula dan pewarnaan sederhana seperti Gram Staining.

c. Belum melakukan verifikasi atau validasi metode analisa

Verifikasi metode diperlukan untuk memastikan kinerja metode di laboratorium memenuhi persyaratan. Laboratorium harus melakukan verifikasi metode di laboratorium masing-masing, menggunakan peralatan yang tersedia dan analis yang biasa melakukan.

Teknik verifikasi metode analisa mikrobiologi berbeda dengan teknik verifikasi pada analisa kimia. Sebaiknya verifikasi metode analisa mikrobiologi dibuatkan Standar Operational Procedure khusus.

Bagaimana cara memperbaikinya?

1.1. Memilih dan menggunakan metode dengan tepat sesuai matrik atau ruang lingkup.

Berikut adalah beberapa metode analisa yang bisa digunakan :

a. Internasional Organization for Standardization (ISO)

b. Standar Nasional Indonesia (SNI)

c. Pharmakopea ( FI, USP, EP. JP dll )

d. Bacteriological Analytical Manual (BAM)

e.  Association of Analytical Collaboration (AOAC) International.

Yang juga harus diperhatikan adalah ruang lingkup dari metode analisa yang dipilih. Metode analisa yang digunakan di luar ruang lingkup harus dilakukan validasi metode terlebih dahulu.

1.2. Membuat Standar Operational Procedure untuk analisa.

1.3. Melakukan seleksi, verifikasi dan validasi metode analisa mikrobiologi dengan benar sesuai persyaratan dan kebutuhan.

free konsultasi validasi dan verifikasi metode analisa mikrobiologi

2.Kesalahan Pada Fasilitas  (Sarana dan Prasarana)

a. Belum mengetahui implementasi Biosafety Level (BSL) di laboratorium mikrobiologi.

b. Ruangan belum terkendali dengan baik

Bagaimana cara memperbaikinya?

2.1. Memenuhi persyaratan fasilitas laboratorium sesuai Biosafety Level.

Merujuk pada Laboratory Biosafety Manual, edisi ke lima, terdapat 4 level Biosafety yaitu , Biosafety level 1 sampai Biosafety level 4. Masing-masing level memiliki peryaratan personil dan fasilitas yang berbeda.

Silahkan klik disini untuk mempelajari BioSafety Level Bersama Ibu Aroem Naroeni DEA Ph.D

2.2. Melakukan monitoring ruangan secara berkala dengan benar, termasuk namun tidak terbatas pada:

  • Menghitung jumlah mikroorganisme (bakteri, kapang dan khamir) pada udara dilaboratorium dengan metode seattling plate atau menggunakan air sampler.
  • menghitung jumlah mikroorganisme pada dinding laboratorium,  peralatan atau baju personil dengan menggunakan swab atau menggunakan RODAC Plate.

3. Kesalahan pada peralatan laboratorium

Ada banyak peralatan laboratorium yang bisa menyebabkan kesalahan pada analisa mikrobiologi, seperti :

a. Laminar Air Flow atau Biological Safety Cabinet (BSC)

Laminar Air Flow (LAF) dan Biological Safety Cabinet (BSC) yang terkontaminasi dan tidak berfungsi dengan baik bisa menyebabkan positif palsu.

b. Autoclave

Autoclave yang tidak berfungsi dengan baik bisa menyebabkan kontaminasi pada media mikrobiologi sehingga berpotensi menyebabkan positif palsu.

c. Inkubator

Inkubator yang nilai toleransinya tidak sesuai persyaratan pada metode analisa bisa menyebabkan kesalahan pada analisa mikrobiologi.

Bagimana cara memperbaikinya?

3.1. Membuat program kalibrasi untuk peralatan laboratorium mikrobiologi .

3.2. Memastikan Laminar Air Flow atau Biological Safety Cabinet berfungsi dengan baik.

3.3.  Monitoring jumlah mikroorganisme (bakteri, kapang dan khamir) pada Laminar Air Flow (LAF) atau Biological Safety Cabinet (BSC) secara berkala.

3.4. Memastikan autoclave berfungsi dengan baik.

Gunakan Biological Indikator secara berkala sesuai prosedur. 

3.5 Memesan peralatan laboratorium sesuai persyaratan.

4. Kesalahan pada pemilihan dan pembuatan media mikrobiologi

a. Belum melakukan pembuatan media mikrobiologi dengan benar.

b. Belum melakukan pengendalian mutu pada pembuatan media mikrobiologi

Bagaimana cara memperbaikinya?

4.1. Melakukan teknik analisa yang bear sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI)

4.2. Melakukan pengendalian mutu pada pembuatan

Banner Workshop Online Pengendalian Mutu Media Mikrobiologi

5. Kesalahan pada analisa mikrobiologi

a. Kesalahan Pre-Analisa

b. Kesalahan Analisa

c. Kesalahan pada fase Post Analitik

Bagaimana cara memperbaikinya?

5.1. Melakukan teknik pengambilan sampel yang benar dan aseptis

5.2. Melakukan analisa sesuai teknik analisa mikrobiologi yang benar

5.3. Melakukan verifikasi pada penulisan hasil pengujian.

6. Kesalahan dalam merekam dan interpretasi data

a. Belum memiliki buku log analisa

b. Kesalahan dalam perhitungan

c. Belum melakukan penetapan estimasi ketidakpastian pengujian kimia

Bagaimana cara memperbaikinya?

6.1. Menggunakan buku log analisa

6.2. Menggunakan pendekatan statistik yang benar dalam perhitungan hasil

6.3. Menetapkan nilai estimasi ketidakpastian pengujian mikrobiologi pada analisa kuantitatif dan semi kuantitatif.

7. Kesalahan dalam pembuangan limbah.

Berbeda dengan analisa kimia, pengelolaan limbah di laboratorium mikrobiologi harus memperhitungkan terjadinya kontaminasi pada limbah yang dibuang.

Penanganan limbah yang salah akan menyebebkan kontaminasi pada lingkungan sekitar laboratorium dan mungkin keluarga analis.

Bagaimana cara memberbaikinya?

a. Identifikasi jenis limbah

Pada laboratorium mikrobiologi terdapat beberapa jenis limbah, yaitu :

  • Limbah B3
  • Limbah bahan kimia
  • Limbah terkontaminasi

b. Mengelola limbah dengan benar

Demikian informasi yang bisa kami sampaikan. Jika ada informasi lain yang dibutuhkan, silahkan menghubungi klik disini.

Leave a reply