7 Langkah Mudah Membuat Program Komunikasi Bahaya Di Laboratorium

Bekerja dengan bahan kimia mengundang banyak potensi bahaya, mulai dari bahaya secara fisik, kimia, dan biologi. Untuk itu, para pekerja di laboratorium harus mendapatkan informasi yang lengkap terhadap bahaya dari setiap bahan kimia sehingga mereka bisa melakukan tindakan pencegahan dengan baik.

Semua ruangan dimana pekerja mempunyai kemungkinan terpapar bahan kimia harus memiliki prosedur tertulis tentang Program Komunikasi Bahaya yang menjelaskan bagaimana komunikasi bahaya diterapkan pada perusahaan/laboratorium tersebut.

Penerapan Program Komunikasi bahaya akan memberikan manfaat baik bagi perusahaan maupun bagi para karyawan.

Dengan Program Komunikasi Bahaya, Perusahaan mendapatkan akses kepada informasi yang tepat  terkait aspek kesehatan dan keselamatan kerja di perusahaan serta dapat menyiapkan tindakan pencegahan sesuai bahan kimia yang digunakan.

Sedangkan untuk pekerja, informasi bahaya pada Program Komunikasi Bahaya bisa membantu untuk memilih bahan kimia dengan potensi bahaya yang paling kecil dan mendapatkan informasi tentang persyaratan alat pelindung diri dan ruangan.

Penggunaan yang benar dari Informasi bahaya bahan kimia bisa menurunkan penyakit dan kecelakaan yang disebabkan bahan kimia dan meningkatkan produktifitas .

Berikut adalah 7 langkah yang bisa dilakukan untuk membangun Program Komunikasi Bahaya di Laboratorium.

1. Pelajari Standar atau Peraturan terkait

K3 Laboratorium 1

Laboratorium harus menyiapkan standar dan peraturan yang terkait keamanan dan kesehatan di laboratorium. Standar yang diikuti harus sesuai dengan peraturan pemerintah yang paling terkini.

Standar, norma, prosedur dan/atau persyaratan perusahaan dapat mencakup Standar Nasional dan Standar Internasional seperti :

  • WHO Third Edition 2004 Laboratory Biosafety Manual
  • WHO Handbook Good Laboratory Practices (GLP) Quality Practices for regulated Non Clinical Research and Development 2009
  • SNI ISO/IEC 17025:2017 Persyaratan Laboratorium Pengujian dan Laboratorium Kalibrasi
  • SNI 19-14001-2005, Sistem Manajemen lingkungan, Persyaratan dan panduan penggunaan
  • Peraturan Pemerintah no.74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun
  • Indonesia Technical Verification-List of Dangerous Goods
  • UU No.16 athun 1992 tentang Karantina hewan, ikan, dan tumbuhan
  • PP no.26 tahun 2002 tentang Keselamatan Pengangkutan Zat Radio Aktif
  • PP No. 21 Tahun 2005 tentang keamanan hayati produk rekayasa genetik
  • Permenperin no. 23 Tahun 2013 tentang perubahan atas permenperin No.87 tahun 2009 tentang Sistem Harmonisasi Global Klasifikasi dan label pada bahan kimia
  • Standar Nasional Kesehatan dan Keselamatn Kerja (K3) dan codes of practices sesuai PP No. 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Bacaan tambahan :

Peraturan Pemerintah Indonesia Terkait K3 Di Laboratorium 

2. Identifikasi dan Penunjukan Staff Penanggung Jawab

K3 Laboratorium 2

Dalam rangka memastikan bahwa Program Komunikasi Bahaya di laboratorium berjalan dengan baik dan berkelanjutan, laboratorium perlu menujuk secara khusus personil yang bertanggung jawab untuk melakukan koordinasi atas penarapan Program Komunikasi Bahaya.

Laboratorium juga harus menunjuk personil yang bertanggung jawab terhadap kegiatan khusus lain seperti program pelatihan terhadap bahaya di laboratorium.

Kedua tugas ini bisa dijalankan oleh satu orang atau orang yang berbeda, tergantung dari besar kecilnya organisasi. Untuk memastikan kompetesi personil ini, anda bisa mengikuti Sertifikasi Personil K3 laboratorium di LabMania Learning Centre.

Bacaan tambahan :

Training dan Sertifikasi BNSP Untuk Personil K3 Laboratorium

3. Mempersiapkan dan mengimplementasikan Prosedur Program Komunikasi Bahaya

K3 Laboratorium 3

Laboratorium harus membuat prosedur tertulis (SOP, SPO, Prosedur kerjaj) tentang program komunikasi bahaya dan rencana penerapannya di laboratorium.

Pembuatan prosedur ini akan memastikan bahwa kesesuaian terhadap standar dilakukan secara sistematis dan terkoordinasi dengan baik.

Prosedur ini harus meliputi bagaimana laboratorium mengikuti persyaratan terkait :

  • Label Bahan Kimia
  • Safety Data Sheets (SDSs) dan
  • Training karyawan

Presedur ini juga sebaiknya mengandung :

a. Daftar bahan kimia yang digunakan

Daftar bahan kimia yang ada akan membantu kita untuk mengetahui secara tepat bahan kimia yang kita punya. Dengan daftar ini, laboratorium bisa mengetahui kemudian memilih bahan kimia yang masih digunakan dan bahan kimia yang sudah tidak lagi digunakan.

Bahan kimia yang sudah tidak digunakan bisa langsung dipindahkan atau dibuang sehingga meminimalisasi bahaya dari bahan kimia tersebut.

Daftar bahan kimia bisa dibuat dengan cara melakukan stock opname untuk semua bahan kimia di laboratorium. Definisi semua bahan kimia disini adalah bahan kimia dalam semua bentuk, cair , padat maupun dalam bnetuk gas.

Selanjutnya setiap pembelian bahan kimia oleh bagian purchasing/pengadaan harus direview kedalam daftar bahan kimia  tersebut.

Langkah selanjutnya adalah memastikan SDSs tersedia untuk semua bahan kimia yang terdapat pada daftar. Jika SDSs belum tersedia, hubungi distributor atau importir bahan kimia tersebut.

Laboratorium tidak boleh menggunakan bahan kimia yang tidak dilengkapi dengan SDSs.

b. Metode untuk menginformasikan bahaya pada pekerjaan tambahan

Prosedur harus termasuk informasi bahaya pada pekerjaan pekerjaan yang tidak dilakukan secara rutin, misalnya transportasi bahan kimia ke laboratorium lain, pemusnahan bahan kimia dan lain lain.

c. Metoda untuk menginformasikan bahaya pada pihak ketiga

Laboratorium sebaiknya memiliki prosedur untuk memberitahu informasi bahaya pada pihak ketiga seperti tamu, teknisi peralatan atau staff perusahaan yang belum pernah berada di laboratorium.

4. Memastikan label pada semua container

K3 Laboratorium 4

Laboratorium harus memastikan label bahan kimia terpasang ketika proses pengiriman dan di tempat kerja.

Pabrik pembuat bahan kimia dan atau  importir harus menyiapkan label bahan kimia selama proses pengiriman dengan (minimal) informasi sebagai berikut :

  • Identifikasi produk
  • Jenis bahaya (signal word)
  • Piktogram
  • Pernyataan bahaya
  • tindakan pencegahan (precautionary statements)
  • Perusahaan penanggung jawab (nama, nomor telepon dan alamat)

Setiap container yang mengandung bahan kimia berbahaya, harus diberikan informasi (minimal) nama bahan kimia dan sifat bahayanya.

5. Memelihara Safety Data Sheets (SDSs)

K3 Laboratorium 5

Laboratorium harus memelihara Safety Data Sheets (SDSs) untuk setiap bahan kimia berbahaya di laboratorium dan memastikan bahawa SDSs dapat diakses dengan mudah untuk setiap karyawan.

SDSs merupakan sumber informasi yang mendetail tentang bahan kimia. Berikut adalah informasi yang terdapat dalam SDSs:

  • Identification
  • Hazard(s) identification
  • Composition / information on ingredients
  • First Aid Measures
  • Firefighting measures
  • Accidental releases measures
  • Handling and storage
  • Exposure control/personal protection
  • Physical and chemical properties
  • Stability and reactivity
  • Toxicological information
  • Ecological information
  • Disposal consideration
  • Transport information
  • Regulatory information
  • Other information

*sengaja ditulis dalam bahasa inggris agar tidak ada kesalahan interpretasi, informasi dengan hurup miring merupakan informasi yang tidak wajib.

Customer harus memelihara salinan SDSs dari semua bahan kimia berbahaya yang ada di laboratorium.

Jika anda belum mendapatkan SDSs dari distributor bahan kimia yang anda gunakan, segera lakukan permintaan kepada mereka.

Laboratorium juga harus menjamin bahwa SDSs dapat diakses dengan mudah oleh semua karyawan ketika bekerja. Kemudahaan dalam akses ini bisa diartikan dengan banyak cara, misalnya dengan mengumpulkan dalam satu binder khusus, atau mengumpulkannya secara elektronik.

Jika SDSs disediakan dalam bentuk elektronik, harus terdapat sistem support ketika listrik tidak menyala, kerusakana alat atau hal emergency lain terkait sistem elektronik utama

Laboratorium juga harus memastikan bahwa karyawan mendapatkan pelatihan bagaimana menggunakan sistem untuk mendapatkan SDSs dan cara mendapatkan hard copy dari SDSs.

Untuk kepentingan medis, SDSs dalam bentuk hard copy harus tersedia untuk personil medis.

6. Menginformasikan dan melakukan training pada karyawan

K3 Laboratorium 6

Pelatihan yang efektif kepada  karyawan terhadap bahaya bahan kimia harus dilakukan sebelum karyawan mulai bekerja dan ketika ada bahaya baru di laboratorium.

Berikut adalah beberapa hal yang harus termasuk dalam modul pelatihan :

  • Persyaratan standar dalam program komunikasi bahaya
  • Lokasi bahan kimia , lokasi tempat analisa dan potensi bahaya
  • Program komunikasi bahaya
  • Metoda pengamatan yang digunakan untuk mendeteksi adanya bahaya bahan kimia yang terjadi di laboratorium
  • Bahaya bahan kimia khusus seperti gas pyrophoric dll
  • Respon darurat pada insiden di laboratorium
  • Detail SDSs

Program pelatihan harus memperhatikan beberapa faktor seperti :

  • Penunjukan koordinator training (seperti yang dibahas pada langkah 2)
  • Format training yang akan digunakan (audivisual, ruang kelas, e-learning)
  • Elemen informasi dan program training

7. Evaluasi Program

K3 Laboratorium 7

Program komunikasi bahaya harus di review secara berkala untuk memastikan bahwa program tersebut berjalan dengan baik, sesuai dengan kondisi terakhir dan mencapai tujuannya.

Koordinator K3 harus memonitor laboratorium secara berkala untuk melihat kesesuaian prosedur dengan penerapannya di laboratorium.

Revisi dapat dilakukan untuk mengakomodasi perubahan di tempat kerja, seperti adanya bahan kimia baru, bahaya baru, dan lain lain.

Berikut adalah Checklist yang bisa kita gunakan untuk memastikan atau mengevaluasi  kesesuaian laboratorium kita dengan standar :

  • apakah standar mudah diakses?
  • Apakah staff laboratorium membaca dan memahami persyaratan
  • Apakah penanggung jawab K3 sudah ditunjuk?
  • Apakah bahan kimia sudah dirapihkan dan tercatat?
  • apakah semua bahan kimia dilengkapi dengan label?
  • Apakah semua bahan kimia sudah dilengkapi dengan SDSs?
  • Apakah Prosedur tertulis Program Komunikasi Bahaya sudah tersedia?
  • Apakah SDSs dapat diakses oleh semua staff laboratorium?
  • Apakah semua staff laboratorium sudah mendapatkan training?
  • Apakah prosedur untuk memelihara dokumen sudah tersedia?
  • Apakah prosedur untuk mengevaluasi tingkat efektifitas program sudah tersedia?

 

Demikian tulisan kami tentang 7 Langkah Mudah Membuat Program Komunikasi Bahaya Di Laboratorium, jika ada informasi lain yang dibutuhkan, silahkan menghubungi kami via e-mail di [email protected]

Praktisi Laboratorium Tersertifikasi BNSP Website

 

 

Leave a reply