7 Risiko Pada Penggunaan HPLC Di Laboratorium

Bagaimana kita mengidentifikasi risiko ketika menggunakan HPLC di laboratorium?

HPLC (High Performance Liquid Chromatoghraphy) merupakan salah satu teknik analisis kromatografi cair yang digunakan baik dalam analisis kualitatif yaitu dalam bentuk pemisahan senyawa maupun dalam analisis kuantitatif yaitu penentuan jumlah senyawa didalam suatu larutan.

Di Indonesia, HPLC dikenal sebagai Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

HPLC kini banyak digunakan di laboratorium industri farmasi, laboratorium pengujian dan laboratorium industri makanan dan minuman.

Sesuai ISO/IEC 17025:2017, Laboratorium harus melakukan identifikasi risiko dan peluang pada setiap kegiatan di laboratorium, termasuk dalam menggunakan HPLC. Risiko ini harus didokumentasikan agar kita bisa menyiapkan tindakan koreksi dan tindakan pencegahan yang diperlukan.

Berikut adalah 7 Risiko Pada Penggunan HPLC di laboratorium :

1. Alat HPLC belum terkalibrasi

Kalibrasi alat merupakan salah satu kewajiban sesuai SNI ISO/IEC 17025:2017 dengan waktu pelaksanaan yang bisa ditentukan sesuai kebutuhan laboratorium.

Jadwal Kalibrasi akan bergantung pada frekuensi penggunaan dan usia alat tersebut. Semakin sering digunakan maka alat tersebut harus lebih sering di kalibrasi.

HPLC merupakan alat instrumen yang harus dikalibrasi, hal ini dikarenakan HPLC memiliki masa dimana akan menunjukkan hasil yang tidak optimal. Dan kalibrasi perlu dilakukan supaya tidak didapatkan penyimpangan yang dapat menimbulkan nilai koreksi pada alat.

Risiko ini bisa kita cegah dengan menyiapkan program kalibrasi yang tepat.

2. Staff Belum Memiliki Kompetensi Yang Cukup

HPLC merupakan salah satu alat instrumentasi yang membutuhkan teknik perawatan yang agak rumit. Salah satunya dalam pemeliharaan kolom yaitu pada proses pembersihan kolom sebelum digunakan dan setelah digunakan.

Selain itu, ada kalanya kita perlu melakukan sonikasi untuk menghilangkan gelembung pada fase mobil yang harus dilakukan analis sebelum melakukan pengujian.

Oleh karena itu, kompetensi analis yang menggunakan HPLC harus diperhatikan dengan lebih baik, karena jika analis tidak mempunyai cukup pengetahuan tentang HPLC dan tidak memiliki kompetensi dalam penggunaan HPLC maka  analisa menjadi tidak akurat dan alat kemungkinan menjadi cepat rusak.

Risiko ini bisa kita cegah dengan menyiapkan program pelatihan yang tepat.

3. Modifikasi Data dan Proses oleh Analis

Hasil pembacaan HPLC adalah kromatogram (peak) yang muncul setelah analisa selesai dilakukan. Pembacaan pada hasil bisanya terlihat dari luas peak dan tinggi peak kromatogram yang dihasilkan.

Tetapi terkadang muncul peak yang tidak diharapkan yang biasanya muncul dari pengotor. Hal ini terkadang membuat para analis memodifikasi hasil analisa supaya mendapatkan hasil yang bagus.

Tindakan seperti ini merupakan kesalahan yang fatal karena memodifikasi adalah yang tidak boleh dilakukan sama sekali oleh analis. Untuk itu, para penyelia dan manager harus memastikan bahwa modifikasi seperti ini tidak boleh terjadi di laboratorium masing masing

Risiko ini bisa kita cegah dengan penandatangan fakta integrasi oleh semua staff termasuk analis, dan proses penyeliaan yang berjalan dengan baik.

4. HPLC tidak menggunakan UPS

Ketidakstabilan arus listrik merupakan salah satu kesalahan acak pada penggunaan HPLC yang tidak dapat diketahui kapan akan terjadi, karena arus listrik tidak terlihat secara kasat mata.

Ketidakstabilan arus listrik dapat menyebabkan instrumentasi HPLC dapat cepat rusak dan tidak membaca hasil dengan optimal.

Salah satu pencegahan agar HPLC mendapat  arus listrik yang stabil adalah dengan penggunaan UPS. UPS dapat menyerap sumber arus listrik dan membuatnya menjadi stabil saat masuk ke dalam instrumentasi HPLC.

Laboratorim yang memiliki HPLC tapi tidak memiliki UPS akan berisiko membuat HPLC cepat rusak dan hasil analisa yang tidak stabil.

Risiko ini kita dapat cegah dengan menyiapkan UPS ketika membeli HPLC

5. Ruangan tidak terkondisikan dengan baik

HPLC merupakan alat instrumentasi yang memiliki spesifikasi penyimpanan sendiri, yakni harus disimpan dalam suhu 20oC ± 3oC dan kelembaban 45% – 65%. Oleh karena itu, kondisi laboratorium harus di monitor secara berkala agar HPLC tetap dalam kinerja yang baik.

Untuk itu, ruangan tempat penyimpanan HPLC harus dilengkapi dengan Thermohygrometer yang direkam secara rutin. Thermohygrometer harus di kalibrasi untuk memastikan bahwa kinerjanya tertelusur secara metrologis.

6. Salah dalam penggunaan reagen saat preparasi sampel

Analisa HPLC membutuhkan reagen dengan spesifikasi khusus. Penggunaan reagen dengan spesifikasi dibawah HPLC Grade akan menyebabkan analisa berjalan dengan tidak optimal.

Untuk mencegah risiko ini, analis yang menggunakan HPLC harus mendapatkan  pelatihan pemilihan dan penggunaan reagen dengan benar.

 

7. Tidak menggunakan CRM

CRM (Certified Refference Standard) merupakan salah satu standar induk yang memiliki ketertelusuran yang tinggi. Penggunaan CRM penting agar kita dapat memastikan akurasi dari hasil analisa yang kita laksanakan.

Demikian informasi mengenai 7 risiko dalam penggunaan HPLC. Jika ada informasi lain yang dibutuhkan, silahkan hubungi kami via e-mail di [email protected]

 

Statistika Dasar Pengujian di Laboratorium

Leave a reply