Dalam proses pengujian kualitas air, tahap pengambilan contoh uji (sampling) memegang peranan yang sangat penting. Akurasi hasil uji di laboratorium sangat bergantung pada representativitas contoh yang diambil dari lapangan. Sayangnya, masih banyak kesalahan umum yang sering terjadi pada tahap ini, baik karena kurangnya pemahaman teknis maupun karena terbatasnya pelatihan yang diperoleh petugas lapangan.
Tulisan ini membahas lima kesalahan yang paling sering dilakukan dalam kegiatan pengambilan contoh uji air, disertai dengan acuan standar nasional yang sebaiknya diterapkan. Diharapkan tulisan ini dapat menjadi referensi bagi petugas laboratorium, petugas pengambil contoh uji, maupun calon peserta sertifikasi kompetensi.
1. Tidak Mengikuti Standar Pengambilan Contoh Uji
Setiap jenis sumber air memiliki karakteristik yang berbeda dan membutuhkan metode pengambilan contoh uji yang spesifik. Misalnya, metode pengambilan contoh air limbah tentu tidak sama dengan air minum atau air permukaan. Sayangnya, masih banyak petugas yang melakukan sampling tanpa mengacu pada standar yang berlaku.
Akibatnya, contoh uji yang diperoleh tidak dapat mewakili kondisi sebenarnya di lapangan, dan hasil analisis laboratorium berpotensi tidak valid.
Acuan standar pengambilan contoh uji air menurut SNI:
- SNI 6989.57:2008 – Tata cara pengambilan contoh air permukaan
- SNI 6989.58:2008 – Tata cara pengambilan contoh air tanah
- SNI 6989.59:2008 – Tata cara pengambilan contoh air limbah
- SNI ISO 5667-5:2017 – Panduan pengambilan contoh air minum
Catatan: Sebelum melaksanakan kegiatan sampling, petugas wajib memahami standar tersebut dan menyesuaikan teknik pengambilan contoh sesuai dengan jenis air yang akan diuji. Pelaksanaan sampling yang tidak mengacu pada standar dapat menurunkan kredibilitas data hasil uji laboratorium.
2. Penggunaan Wadah Contoh yang Tidak Sesuai
Pemilihan wadah contoh uji merupakan aspek penting dalam kegiatan sampling, namun sering kali diabaikan. Wadah yang tidak sesuai dapat menyebabkan kontaminasi, reaksi kimia, atau perubahan komposisi sampel sebelum dilakukan analisis.
Sebagai contoh:
- Parameter logam berat sebaiknya disimpan dalam botol plastik HDPE, bukan botol kaca.
- Parameter minyak dan lemak harus disimpan dalam botol kaca gelap untuk mencegah pengaruh cahaya.
Selain itu, setiap wadah wajib bersih, steril, dan diberi label lengkap, meliputi kode sampel, lokasi, tanggal, waktu, dan nama petugas pengambil contoh uji.
Acuan standar:
Gunakan SNI 6989.2:2019 – Pengawetan dan Penanganan Contoh Air sebagai pedoman dalam memilih wadah, melakukan pengawetan, dan menentukan waktu maksimal antara pengambilan dan pengujian.
Catatan: Pastikan wadah telah disterilisasi dengan benar dan disiapkan sesuai parameter uji yang direncanakan. Kesalahan kecil seperti salah memilih wadah dapat mengakibatkan perubahan signifikan pada hasil uji.
3. Pengawetan Contoh Uji yang Tidak Tepat
Banyak parameter kualitas air yang sangat sensitif terhadap waktu, suhu, dan kondisi penyimpanan. Oleh karena itu, pengawetan contoh uji perlu dilakukan segera setelah pengambilan agar karakteristik kimia dan fisiknya tidak berubah.
Beberapa contoh prosedur pengawetan:
- Sampel logam berat: ditambahkan HNO₃ hingga pH < 2
- Sampel BOD: disimpan pada suhu 4°C dan harus dianalisis maksimal dalam waktu 48 jam
- Sampel klorin: harus diuji segera di lapangan karena mudah menguap
Semua ketentuan pengawetan tersebut diatur dalam SNI 6989.2:2019 – Pengawetan dan Penanganan Contoh Air.
Catatan: Gunakan cool box dengan es batu atau pendingin portabel selama transportasi. Hindari meletakkan contoh uji di area yang terpapar panas langsung (misalnya di bagasi kendaraan), karena dapat mempercepat reaksi kimia dan merusak contoh.
4. Tidak Melakukan Pencatatan Kondisi Lapangan
Aspek dokumentasi sering kali terabaikan saat kegiatan sampling. Padahal, pencatatan kondisi lapangan merupakan bagian penting dalam validasi data laboratorium. Informasi seperti kondisi cuaca, suhu, pH, konduktivitas, dan waktu pengambilan sangat berpengaruh terhadap interpretasi hasil uji.
Petugas sampling sebaiknya mencatat:
- Suhu air dan suhu udara
- pH dan konduktivitas air
- Kondisi cuaca saat pengambilan
- Lokasi GPS dan waktu sampling
- Nama petugas dan instansi pengambil contoh
Pencatatan dapat dilakukan menggunakan field log sheet atau aplikasi digital yang dilengkapi fitur geolokasi dan pencatatan waktu otomatis.
Catatan: Data lapangan yang lengkap tidak hanya mendukung validitas hasil uji, tetapi juga menjadi bukti pelaksanaan yang sesuai dengan prosedur mutu ISO/IEC 17025:2017.
5. Dokumentasi Chain of Custody yang Tidak Lengkap
Chain of Custody (CoC) adalah dokumen yang mencatat proses pengalihan contoh uji dari pengambil di lapangan hingga penerimaan di laboratorium. Dokumen ini memastikan bahwa contoh uji yang dianalisis benar-benar berasal dari lokasi dan waktu yang tercantum.
Sayangnya, masih banyak laboratorium atau petugas yang kurang memperhatikan kelengkapan dokumen CoC. Hal ini dapat menimbulkan keraguan terhadap keabsahan data hasil uji, terutama pada saat audit atau verifikasi.
Catatan: Pastikan setiap tahap perpindahan contoh uji tercatat dengan jelas, termasuk nama penerima, waktu serah terima, serta kondisi contoh uji saat diterima. CoC yang lengkap merupakan bagian integral dari sistem jaminan mutu laboratorium.
Mengapa Pengambilan Contoh Uji Harus Dilakukan oleh Personel Kompeten?
Kegiatan pengambilan contoh uji tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Petugas pengambil contoh uji wajib memiliki kompetensi teknis dan pemahaman terhadap standar yang berlaku. Kompetensi ini mencakup:
- Pengetahuan mengenai standar SNI terkait pengambilan contoh air
- Keterampilan dalam menggunakan alat sampling dengan benar
- Kemampuan melakukan pengawetan, penyimpanan, dan transportasi contoh uji
- Pemahaman dokumentasi mutu seperti field log sheet dan Chain of Custody
Kesalahan pada tahap sampling dapat menimbulkan kerugian besar, baik dari sisi biaya analisis maupun kredibilitas laboratorium. Oleh karena itu, personel yang melaksanakan kegiatan sampling sebaiknya memiliki sertifikasi kompetensi resmi yang diakui oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Solusi: Tingkatkan Kompetensi Melalui Pelatihan dan Sertifikasi Resmi

Untuk mendukung peningkatan kompetensi tenaga laboratorium di Indonesia, Labmania Indonesia menyelenggarakan Training dan Sertifikasi Petugas Pengambil Contoh Uji Air (Double Certification) yang mencakup pelatihan teknis dan uji kompetensi bersertifikat BNSP.
Tanggal Pelaksanaan: 02 – 04 Desember 2025
Lokasi: Labmania Learning Centre, Summarecon Bekasi (Hybrid)
Waktu: 08.30 – 15.15 WIB
Peserta yang Dapat Mengikuti:
- Petugas Pengambil Contoh Uji
- Penerima Sampel Uji
- Analis Laboratorium
Fasilitas dan Manfaat:
- Sertifikat pelatihan dari Labmania Indonesia
- Sertifikat kompetensi dari BNSP (bagi peserta yang direkomendasikan kompeten)
- Praktikum langsung di laboratorium
- Kesempatan membangun jejaring profesional antar praktisi laboratorium
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktis dalam pengambilan contoh uji sesuai standar. Dengan sertifikasi BNSP, kompetensi peserta diakui secara nasional dan menjadi nilai tambah dalam karier profesional di bidang laboratorium lingkungan.
Kesimpulan
Kesalahan dalam pengambilan contoh uji air dapat menyebabkan hasil analisis yang tidak akurat dan berpotensi merugikan proses pengambilan keputusan berbasis data lingkungan.
Oleh karena itu, penting bagi setiap petugas untuk:
- Mengikuti standar SNI yang berlaku,
- Menggunakan wadah dan metode pengawetan yang tepat,
- Mencatat kondisi lapangan secara lengkap, dan
- Menjaga dokumentasi Chain of Custody dengan baik.
Peningkatan kompetensi melalui pelatihan dan sertifikasi resmi menjadi langkah strategis untuk memastikan mutu data dan profesionalisme tenaga kerja laboratorium di Indonesia.




Tulis Komentar