Cara Menguji Kualitas Air Suling Laboratorium Sesuai SKKNI (Panduan Lengkap)

Cara Menguji Kualitas Air Suling Laboratorium Sesuai SKKNI (Panduan Lengkap)

Ghina Labmania
30 Jun 2025
7 menit baca

Air suling (akuades) adalah bahan dasar penting dalam pengujian laboratorium. Hal Ini dikarenakan air suling banyak digunakan untuk kebutuhan pengujian seperti membuat Larutan atua bahkan dalam maintenance laat atau instrumentasi di laboratorium. Penggunaan air suling berkualitas menjadi syarat utama untuk memastikan hasil analisis yang akurat dan andal.

Bagaimana cara menguji dan melaporkan kualitas air suling sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia ?

Merujuk pada Unit Kompetensi M.749000.007.01 pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia No. 200 tahun 2016 tentang analisis kimia, berikut adalah langkah langkah yang bisa kita lakukan untuk menguji dan melaporkan kualitas air suling di laboratorium.

Ruang lingkup :

Unit kompetensi ini digunakan untuk menguji kualitas air suling, menguji kualitas pereaksi, dan melaporkan kualitas air suling dan pereaksi dalam memastikan kualitas air suling dan pereaksi.

Prosedur :

I. Menguji Kualitas Air Suling

1.1 Memasukkan sampel air ke dalam gelas kimia yang sesuai.

1.2 Menguji kondisi fisik air suling sesuai prosedur. Kondisi fisik air suling dan pereaksi meliputi warna, bau, dan kekeruhan.

1.3 Mengukur nilai pH air suling dengan cara yang benar. Pada pengukuran pH, air suling ditambahkan satu atau dua tetes larutan KCl 10% netral.

1.4 Mengukur nilai daya hantar listrik air suling sesuai prosedur.

1.5 Membandingkan hasil pengukuran kualitas air suling dengan standar keberterimaan yang telah ditentukan.

1.6 Menindaklanjuti air suling yang tidak memenuhi persyaratan mengikuti ketentuan perusahaan.

II. Melaporkan kualitas air suling

2.1 Melaporkan hasil pengukuran kualitas air suling dan pereaksi sesuai prosedur.

3.2 Melaporkan ketidaksesuaian yang terjadi sesuai prosedur.

Persyaratan keberterimaan air suling dalam analisis kimia :

1. Sifat Fisik dan Kimia

  • Jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Air suling harus tampak bening tanpa endapan atau kekeruhan, tidak memiliki aroma, dan tidak meninggalkan rasa

2. Bebas dari Kontaminan Kimia

  • Bebas klorida: Tidak terbentuk endapan atau kekeruhan setelah penambahan larutan perak nitrat.
  • Bebas nitrat: Tidak terbentuk warna biru pada batas bidang setelah reaksi dengan larutan difenilamin.
  • Bebas sulfat: Tidak terbentuk endapan setelah penambahan larutan barium klorida.
  • Bebas karbon dioksida: Setelah penambahan larutan kalsium hidroksida, air tetap jernih tanpa endapan
  • Bebas nitrit: Untuk analisis yang sensitif terhadap nitrit, air suling harus diproses khusus agar bebas nitrit, misalnya dengan menambahkan KMnO₄ dan Ba(OH)₂ atau Ca(OH)₂, kemudian didistilasi dan destilat pertama dibuang

3. Nilai Konduktivitas

  • Konduktivitas rendah menandakan kadar ion terlarut sangat minim. Nilai konduktivitas yang diperbolehkan biasanya mengikuti standar metode pengujian yang digunakan. Konduktivitas tinggi menunjukkan adanya analit atau kontaminan yang dapat mengganggu hasil analisis

4. Penyimpanan

  • Disimpan dalam wadah tertutup rapat dan bersih untuk mencegah kontaminasi ulang. Wadah harus diberi label yang jelas mengenai isi, tanggal pembuatan, dan tanggal kedaluwarsa jika memungkinkan

5. Spesifikasi Teknis Lain

  • Jika metode pengujian mensyaratkan air bebas CO₂ atau nitrit, maka prosedur khusus harus dilakukan untuk memastikan air suling memenuhi kebutuhan tersebut
  • Untuk kebutuhan analisis kimia lingkungan atau laboratorium, air suling harus memenuhi standar analyte free water sesuai dengan parameter yang dipersyaratkan dalam metode pengujian

Ringkasan Tabel Persyaratan Air Suling:

ParameterSyarat Keberterimaan
FisikJernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
KloridaTidak terbentuk endapan dengan AgNO₃
NitratTidak terbentuk warna biru dengan difenilamin
SulfatTidak terbentuk endapan dengan BaCl₂
KarbondioksidaTidak terbentuk endapan dengan Ca(OH)₂
NitritBebas nitrit (khusus analisis tertentu, menggunakan prosedur khusus)
KonduktivitasRendah, sesuai standar metode pengujian
PenyimpananDalam wadah tertutup rapat, bersih, dan berlabel

SNI Rujukan Terkait Air Suling

1.Cara Uji ph menggunakan pH meter pada air dan air limbah (SNI 06‑6989.11‑2019)

pH penting untuk menilai kualitas air suling karena pH merupakan indikator utama tingkat keasaman atau kebasaan air, yang secara langsung berhubungan dengan kemurnian dan keamanan air suling untuk berbagai aplikasi laboratorium.

Berikut alasan utama pH menjadi parameter penting dalam menilai kualitas air suling:

  • Indikator Kemurnian: Air suling murni secara teoritis memiliki pH netral, yaitu sekitar 7,0 pada suhu 25°C. Nilai pH yang menyimpang dari netral dapat menandakan adanya kontaminasi oleh zat asam atau basa, baik dari proses distilasi, wadah penyimpanan, atau paparan udara (misal, penyerapan CO₂ dari udara dapat menurunkan pH)
  • Menjamin Akurasi Analisis: Dalam analisis kimia, air suling digunakan sebagai pelarut atau blanko. Jika pH air tidak netral, dapat mempengaruhi reaksi kimia, hasil titrasi, atau kestabilan larutan standar sehingga menurunkan keakuratan hasil analisis
  • Keamanan dan Kesehatan: Air suling dengan pH ekstrem (terlalu asam atau basa) bisa berbahaya untuk penggunaan medis, seperti pada sterilisasi alat atau pelarutan obat, karena dapat merusak jaringan atau alat
  • Menjaga Peralatan: pH yang tidak netral dapat mempercepat korosi atau kerusakan pada peralatan laboratorium dan industri, terutama yang berbahan logam atau kaca
  • Standar Mutu: Standar air suling untuk laboratorium umumnya mensyaratkan pH mendekati netral (sekitar 6,5–7,5) agar aman dan tidak mempengaruhi hasil pengujian

2.Cara Uji Daya Hantar Listrik pada Air dan Air Limbah(SNI 06‑6989.1-2019)

Konduktivitas penting untuk menilai kualitas air suling karena parameter ini secara langsung menunjukkan tingkat kemurnian air dan keberadaan ion atau mineral terlarut di dalamnya. Berikut penjelasan detailnya:

  • Indikator Kemurnian: Air suling murni hampir tidak mengandung ion terlarut, sehingga memiliki konduktivitas yang sangat rendah (umumnya 0,5–5 µS/cm). Jika konduktivitas air suling tinggi, berarti terdapat kontaminan seperti garam, mineral, atau logam yang dapat mengganggu hasil analisis kimia
  • Deteksi Kontaminasi: Pengukuran konduktivitas memungkinkan deteksi dini adanya kontaminan anorganik seperti natrium, kalsium, klorida, dan magnesium yang seharusnya tidak ada dalam air suling berkualitas tinggi. Semakin tinggi konduktivitas, semakin banyak ion terlarut yang menandakan kualitas air semakin buruk.
  • Korelasi dengan TDS (Total Dissolved Solids): Konduktivitas juga berkaitan erat dengan TDS, sehingga dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah total padatan terlarut dalam air. Air suling yang baik harus memiliki TDS sangat rendah, yang tercermin pada nilai konduktivitasnya.
  • Pengaruh pada Analisis Kimia: Dalam analisis kimia, keberadaan ion asing dapat menyebabkan gangguan atau reaksi samping yang mempengaruhi keakuratan hasil. Oleh karena itu, air suling dengan konduktivitas rendah sangat penting agar hasil analisis tidak terkontaminasi oleh ion-ion yang tidak diinginkan
  • Praktis dan Cepat: Pengukuran konduktivitas merupakan metode yang cepat, mudah, dan efisien untuk menilai kemurnian air tanpa perlu analisis laboratorium yang rumit

Dokumen yang dibutuhkan untuk menjaga kualitas air suling :

Untuk menjaga kualitas air suling dalam laboratorium, beberapa dokumen penting harus disiapkan dan dikelola dengan baik. Dokumen-dokumen ini berfungsi sebagai pedoman, rekaman, dan bukti bahwa air suling yang digunakan memenuhi standar mutu yang diperlukan. Berikut adalah dokumen-dokumen utama yang dibutuhkan:

  1. Prosedur Operasi Standar (SOP) Pengadaan dan Penyimpanan Air Suling
    Dokumen ini menjelaskan langkah-langkah pembuatan, pengujian, penyimpanan, dan penanganan air suling agar tetap murni dan bebas kontaminan. SOP ini juga mencakup cara pembersihan dan pemeliharaan alat penyuling air
  2. Dokumen Pengujian Mutu Air Suling
    Meliputi hasil pengukuran parameter penting seperti konduktivitas, pH, bebas nitrit, bebas karbon dioksida, dan kandungan ion lain yang dapat mengganggu analisis. Pengujian ini harus dilakukan secara berkala dan hasilnya didokumentasikan untuk memastikan air suling memenuhi spesifikasi yang ditetapkan
  3. Rekaman Pemakaian dan Distribusi Air Suling
    Catatan penggunaan air suling di laboratorium, termasuk tanggal, jumlah yang digunakan, dan untuk keperluan apa, guna menjaga kontrol mutu dan mencegah penyalahgunaan atau kontaminasi
  4. Label dan Identifikasi Wadah Penyimpanan
    Setiap wadah air suling harus diberi label yang jelas memuat informasi seperti jenis air (air suling), tanggal pembuatan, tanggal kedaluwarsa, dan identitas personel yang bertanggung jawab. Label ini penting untuk menghindari kesalahan penggunaan dan memastikan ketertelusuran
  5. Dokumen Standar dan Metode Pengujian
    Dokumen standar seperti SNI, ISO/IEC 17025:2017, dan peraturan terkait (misalnya Permenkes, Kepmen LH) yang menjadi acuan dalam pengujian dan penilaian kualitas air suling. Laboratorium harus memiliki dan mengikuti dokumen ini agar hasil pengujian valid dan akreditasi terjaga
  6. Rekaman Kalibrasi dan Pemeliharaan Alat Penyuling dan Pengukur
    Dokumen ini mencatat jadwal dan hasil kalibrasi alat penyuling air serta alat ukur seperti konduktivimeter dan pH meter, untuk memastikan alat selalu dalam kondisi baik dan hasil pengukuran akurat
  7. Dokumen Pengendalian Mutu Internal
    Meliputi prosedur dan rekaman pengendalian mutu, termasuk penggunaan bahan acuan bersertifikat (CRM), prosedur pembuatan larutan reagen dengan air suling, serta verifikasi mutu air suling secara rutin

Tulis Komentar